Monday, May 10, 2010
THE VISIONS 21 : MAKANAN BAGI PRIA SUPER
1. Saus tomat
Pria yang banyak makan tomat, saus tomat, atau pizza dengan tomat, telah melindungi diri mereka dari kanker prostat. Tim riset dari Harvard menyatakan bahwa pria yang mengkonsumsi saos tomat 2 sampai 4 kali per minggu punya risiko kanker prostat 35% lebih rendah. Anehnya, jus tomat tidak mempunyai khaziat yang sama. Ini karena penyerapan zat anti kanker dalam tomat lebih maksimal jika dimasak dengan minyak. Jadi dokter Anda disini akan menyuruh Anda makan banyak pizza!
2. Tiram
Mitos mengatakan bahwa tiram adalah makanan cinta. Ilmu pengetahuan setuju. Mengkonsumsi dua hingga tiga tiram memberi zat besi yang cukup, mineral yang penting bagi sistem reproduksi pria.
3. Brokoli
Sebuah riset dari Harvard menunjukkan bahwa brokoli bisa melindungi tubuh dari kanker kandung kemih. Para ilmuwan menganalisa pola makan 50.000 pria dan menemukan, mereka yang memakan lima porsi atau lebih brokoli punya risiko separuh lebih rendah untuk terkena kanker kandung kemih.
4. Selai kacang
Jika para pria ingin punya jantung sehat, jadikan roti dengan selai kacang sarapan Anda! Penyakit jantung adalah pembunuh utama pada pria dan wanita, tapi pria cenderung terjangkit pada usia yang lebih muda. “Selai kacang memang mengandung lemak yang tinggi, namun ini adalah lemak yang baik,” ujar tim riset dari Universitas Pennsylvania. Jenis lemak ini akan mengurangi trigliserida tanpa mengurangi tingkat kolesterol baik. Hanya jangan oleskan terlalu tebal pada roti. Selai kacang berkalori sangat tinggi!
5. Semangka
Semangka mengandung begitu banyak potasium, mineral yang bisa mengurangi risiko darah tinggi dan stroke. Satu potong semangka punya lebih banyak potasium dari pisang atau segelas jus jeruk. Jadi mulailah memotong semangka untuk penganan di hari yang panas!
Sumber : Tim Editorial Yahoo! Indonesia ( http://mim.yahoo.com/yahooindonesia/p/bedcCR0/?cid=idtd )
Saturday, November 14, 2009
THE VISIONS 20 : MOT-VISION OF THE DAY
Dan pekerjaan yang lebih baik berarti Promosi lebih besar, Uang lebih banyak, Prestise lebih besar, Kebahagian lebih besar.
2. Orang yang mengatakan kepada anda bahwa sesuatu tidak dapat dilakukan hampir selalu adalah orang yang tidak berhasil, orang yang biasa-biasa saja prestasinya. Pendapat orang seperti ini TIDAK BERHARGA.
from 'The magic of thinking BIG'
Thursday, November 12, 2009
THE VISIONS 19 : BENARKAH KITA SUDAH MENGENAL DIRI SENDIRI ?
Dalam pergaulan kerap ditemui orang yang persepsi tentang dirinya sendiri tidak klop dengan kenyataan. Tapi umumnya orang mengatakan, saya paham betul siapa dirinya.
Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.
Tapi tidak demikian dengan Bu Intan. Ia tak pernah menampilkan diri apa adanya. Wanita pintar berambut lebat ini lebih suka menarik diri dari pergaulan karena tidak bisa berbahasa Inggris.
“Dibanding teman-teman, saya bukan apa-apa,” katanya. Ia minder, merasa dirinya tidak pantas diperhitungkan dan tempatnya di belakang, karena tidak pernah bisa berkomunikasi jika ada tamu bule. Maka Bu Intan selalu menyingkir atau pura-pura sakit jika harus bertemu orang dari negara lain.
Padahal teman-temannya tidak pernah menganggapnya remeh. Bu Intan bahkan sangat disukai dan dihormati, karena ia orang yang paling teliti dalam pekerjaan. Ia juga pendengar yang baik, sehingga menjadi tempat curhat teman-temannya.
Sayangnya hal-hal positif itu tidak dianggapnya penting, dan dia lebih menampilkan dirinya sebagai orang yang nilainya lebih rendah. Padahal, banyak orang lain yang tidak bisa bahasa Inggris tetap sukses dalam pekerjaan dan pergaulan.
Ini berkebalikan dengan Pak Badu, sebutlah begitu. Anak muda yang belum lama masuk dunia politik ini, menilai dirinya terlalu besar. Dengan posisi politik dan kedudukannya sebagai anggota DPR, ia mengira bisa mengatur negara dan menentukan ini itu seperti yang diinginkannya.
Di hadapan rekan-rekannya dalam suatu acara reuni misalnya, dia bisa berkata,
“Oh, gampang itu. Saya akan atur nanti supaya si Itu dilepaskan dari kabinet dan diganti dengan si Ini.”
Dalam acara dengar pendapat dengan seorang penegak hukum yang reputasi, integritas, dan moralnya sangat bagus dia berkata, “Saya ingin menguji Saudara….,” atau bahkan, “Saya ingin menasihati Saudara….”
Mendengar itu semua, teman yang mengenal Pak Badu terheran-heran. “Dia itu siapa, kok, berani-beraninya bicara begitu kepada orang tua yang sangat disegani itu.” Temannya yang lain berkomentar, “Kasihan betul Badu ini, dia sudah tidak kenal lagi siapa dirinya.”
Kenyataan dan AsumsiMengapa orang bisa seperti itu? Mengapa harus membohong terus? Mungkin mereka dan bahkan kita sendiri mencoba tampil seperti yang kita kira bagus, tapi sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.
Lalu, siapa diri kita sebenarnya? Apa yang kita tahu betul tentang diri kita? Apakah kita tahu tentang kelemahan dan kekuatan kita? Dan apa yang kita kira kita tahu tentang diri sendiri itu lantas terbukti atau sesuai dengan kenyataan? Kalau itu kelebihan, apakah orang lain juga mengakuinya? Dan kalau itu kita kira sebagai kekurangan, apakah orang lain juga mengakui itu kekurangan kita?
Semakin mendekati jarak antara kenyataan dengan apa yang kita asumsikan tentang diri kita, itu berarti baik karena kita mengenal diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Semakin jauh jarak antara kenyatan dengan apa yang kita perkirakan tentang diri sendiri, artinya buruk sekali pengenalan diri kita.
Apa akibatnya jika orang tidak kenal dirinya, sehingga jarak antara asumsi dan kenyataan tentang diri sendiri begitu jauh? Tak bisa lain, orang itu harus terus berusaha mengingkari kenyataan tentang dirinya. Barangkali dalam kenyataan sehari-hari muncul dan sering kita temui dalam bentuk over compensation, membual, melebih-lebihkan, atau bahkan mengecilkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri, berbohong dan seterusnya jika merasa dirinya paling hebat. Ia tidak berpijak pada kenyataan, sehingga dalam bekerja biasanya hanya omong doang.
Begitu pula sebaliknya orang yang mengira diri sendiri negatif, akan sangat minder, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tidak mau melakukan apa pun.
“Apalah artinya saya, siapa yang mau mendengarkan saya,” adalah contoh ungkapan yang sering diucapkan orang dengan persepsi diri negatif. Orang ini sebetulnya sangat tertekan pada kelemahan dirinya. Baik yang menilai dirinya terlalu tinggi maupun terlalu rendah, keduanya tidak sesuai kenyataan dan itu berarti jelek. Hal ini secara mental atau psikologis tidak sehat.
Orang yang selalu pakai kedok akan capek, lalu memberikan stres yang besar pada diri sendiri.
SolusiDalam psikologi ada konsep yang disebut Johari Window atau Jendela Johari, yang menggambarkan pengenalan diri kita. Ada empat jendela dalam Jendela Johari.
(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.
(2) Jendela tertutup. Hal-hal mengenai diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan, pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.
(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.
(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah misteri dalam kehidupan.
Semakin besar daerah/jendela terbuka kita akan semakin baik, karena berarti kita mengenal diri secara baik. Orang yang memiliki daerah tertutup lebih besar akan mengalami kesulitan dalam pergaulan. Adapun mereka yang memiliki daerah buta sangat besar, bisanya akan membuat orang lain merasa kasihan.
Kepada orang yang kita kenal dekat, jendela itu harus dibuka semakin besar, juga bila kita ingin bekerjasama dengan orang lain. Bagaimana membuka jendela? Bagaimana kita bisa kenal diri sendiri? Bagaimana kita memiliki jendela terbuka yang semakin besar?
1. Bersedia menerima umpan balik, secara verbal maupun non-verbal.
a. Bersedialah untuk menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain tentang diri kita. Kalau ada orang yang memberikan kritik sangat pedas, ada baiknya dikaji. Jika merasa tidak benar, tanyakan, mengapa dia mengungkapkan hal itu, cari klarifikasi, dan bukan membalas menghajarnya atau mengkritik balik. Kritik adalah bentuk umpan balik yang berisi informasi negatif tentang diri kita, yang mungkin kita anggap kelemahan. Harusnya kritik itu berisi saran, karena kritik itu berarti menunjukkan kesalahan dan harus bisa memberitahu bagaimana jalan keluarnya
b. Kita juga harus mau lebih membuka diri. Ungkapkan kalau ada uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan dan sebagainya. Bisa lisan bisa tertulis harus diungkapkan terus terang. Bisa juga kita membuka kekuatan atau kelemahan diri kita,dibagi kalau berupa kekuatan. Ini cara supaya orang lain lebih mengenali diri kita, dan kita pun makin tahu tentang diri sendiri. Kita tidak mungkin mengenali diri sendiri hanya dari muka cermin, tapi juga melalui orang lain supaya kita mendapat gema atau echo dari orang lain.
2. Bagaimana cara kita membuka diri? Banyak bergaul, berteman baik, memperluas hubungan interpersonal dan berkomunikasi. Dengan cara ini kita akan mendapat masukan dari banyak orang. Semakin luas pergaulan akan mendapat masukan lebih banyak mengenai diri kita.
http://id.news.yahoo.com/kmps/20091111/tls-benarkah-kita-sudah-mengenal-diri-se-8d16233.html
Wednesday, November 11, 2009
THE VISIONS 18 : SHOW SPEED BURN DISC
In the process of burning, the burn speed is usually set by the user will be displayed on the screen. But do not be surprised if it appears speed was not the real speed. The speed of the ongoing fuel could be far below the numbers listed, it all depends on the burning method you choose and the state of the system at that time.
If you want to know how the speed of burning CD / DVD the real, practicing the following trick.
1. Click Start> All Programs> Nero> Nero 9> Nero Express.
2. Click the logo box triangle pointing to the left.
3. Select the Options menu in the Advanced.
4. In the Options window, open the Misc tab.
5. In the Options box, find groups Burning and check on the menu "Show real recorder write speed while burning".
6. Click OK to close the Options window.
From now on, all the disks that were burned with Nero will show the actual burn speed.
Source: PCplus
http://id.news.yahoo.com/kmps/20091111/ttc-tampilkan-kecepatan-bakar-disc-566ebb2.html
THE VISIONS 17 : MORE ABOUT TIENS CALCIUM
Tuesday, November 10, 2009
THE VISIONS 16 : 4 THINGS YOU SHOULD NEVER DO WITH YOUR CREDIT CARDS
From Redbook
Susan McCarthy, a financial adviser in Oklahoma City and author of The Value of Money, lists her top four credit card don'ts:
1. Don't make only the minimum payments. This stretches out your payment and, thanks to the interest, significantly increases your overall cost.
2. Don't carry too many cards. Multiple cards make it easier to rack up debt because it's harder to keep track of your spending. Having lots of cards isn't necessarily bad for your credit, but misusing them is. So limit your plastic to two national cards (store cards often carry higher interest rates) that you manage carefully.
3. Don't miss payment due dates. Not only will you be hit with a late fee-as high as $39 on some cards-but your interest rate could also jump. Sign up for online banking or pay over the phone if you're up against the deadline. (You may pay a processing fee, but it will probably be less than the late fee and the possible interest-rate hike.)
4. Don't take cash advances. These advances generally come with sky-high interest rates and service fees, making them a far too expensive way to get cash. Avoid at all costs
From : http://shine.yahoo.com/channel/life/4-things-you-should-never-do-with-your-credit-cards-530910/
THE VISIONS 15 : THE WAY TO FIX THE PROBLEM FOR SONY CYBER-SHOT DSC-W30 DIGITAL CAMERA
Here is the Best Solution :
Blow around the lens in all the extension joins the firmly slap it in the palm of you hand with the side of the camera making contact with you palm. Do the procedure two or 3 times and inbetween the slaps turn it on to activate the lens mechanism. Keep at it as it will eventually work.
One tip, make sure the battery is charged before you do this.
Original Site : http://www.fixya.com/support/t2804784-when_turn_camera_access_comes_screen
Tuesday, October 27, 2009
THE VISIONS 14 :FACEBOOK PALSU
Tingginya popularitas Facebook ternyata telah dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya, atau istilah kerennya cyber criminal. Mereka telah membangun situs Facebook versi Indonesia yang bertujuan untuk penipuan (phising). Pengguna yang terjebak akan secara sengaja menyerahkan informasi username dan password akun Facebook mereka ke kriminal tersebut.
“Jika dilihat sekilas, tampilan situs Facebook gadungan ini memang mirip aslinya, termasuk ketersediaan sarana registrasi bagi pengguna baru. Begitu pun dengan icon, gambar, judul halaman dan elemen lain yang lazim dijumpai pada laman utama Facebook ketika baru dibuka,” kata Brama Setyadi, seorang praktisi teknologi pada VIVAnews, 26 Oktober 2009.
“Satu-satunya yang membuat laman ini berbeda adalah alamatnya, yakni http://facabook.co.tv/indonesia,” ucap Brama yang awalnya mendapatkan pesan phising tersebut di inboks akun Facebook-nya.
Pada laman Facebook asli, Brama menyebutkan, data login yang dimasukkan pengguna akan dikirim menggunakan metode POST ke file login.php di alamat ‘https://login.facebook.com’.
“Sekadar info, HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure) adalah protokol yang digunakan untuk mengamankan jalur pengiriman data dengan memanfaatkan enkripsi,” kata Brama. “Sementara Facebook palsu mengirimkan data login ke file src-login.php di alamat http://facabook.co.tv,” ucapnya.
“Dari sini sebenarnya dapat diketahui bahwa sebenarnya si pembuat laman sama sekali tidak mengirimkan data untuk keperluan otentikasi, melainkan hanya merekam data login ke dalam database miliknya,” ucap Brama.
Menurut laporan beberapa korban, informasi tentang Facebook palsu ini didapat lewat fasilitas message Facebook, meskipun si phiser tidak masuk ke dalam daftar teman. Isi beritanya kurang lebih mengharuskan si calon korban untuk melakukan login ke facebook dengan segera karena sistem administrasi Facebook sedang dalam tahap seleksi pengguna aktif. Sembari melampirkan alamat palsu di atas, phiser juga menyuruh meneruskan pesan yang dibuatnya kepada 15 pengguna Facebook lain.
Lalu apa yang terjadi jika pengguna memasukkan informasi kredensial ke laman ini? Setelah merekam data login si pembuat akan langsung mengalihkan laman ke alamat login Facebook yang asli. Seakan-akan pengguna telah salah atau belum memasukkan informasi login.
“Anda yang telah terlanjur memasukkan informasi login di situs tersebut, ada baiknya segera mengubah password Facebook yang Anda punya,” ucap Brama.
Monday, October 19, 2009
THE VISIONS 13 : BUDAYA MINUM TEH DAN MANFAATNYA
VIVAnews - Kebiasaan minum teh telah menjadi semacam ”ritual khusus” di kalangan masyarakat Cina dan Jepang. Bahkan hingga kini, upacara minum teh di tengah masyarakat Jepang merupakan suatu hal yang sakral.
Di Cina, budaya minum teh sudah dikenal sejak 3.000 tahun sebelum Masehi, pada zaman Kaisar Shen Nung berkuasa. Kemudian budaya minum teh berlanjut di Jepang sejak masa Kamakaru oleh pengikut Zen.
Tujuannya adalah agar mereka mendapatkan kesegaran tubuh selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Pada akhirnya, tradisi minum teh menjadi bagian dari upacara ritual Zen. Selama abad ke-15 hal itu dijadikan acara tetap untuk mendiskusikan berbagai hal.
Meski saat itu belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, namun masyarakat Cina sudah meyakini teh dapat menetralisir kadar lemak dalam darah, setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung lemak. Mereka juga percaya, minum teh dapat melancarkan air seni, menghambat diare dan sederet kegunaan lainnya.
Seiring dengan perkembangan ilmu pangan yang makin maju, khasiat minum teh pun makin banyak diketahui. Hal ini kian mendongkrak konsumsi teh dari tahun ke tahun. Budayanya pun makin menyebar dan berkembang di beberapa negara seperti Inggris, Irlandia, Pakistan dan India.
Sedangkan di Indonesia sendiri, budaya ini masih sangat minim dan terhitung masih rendah konsumennya. Padahal, Indonesia merupakan penghasil teh kelima terbesar di dunia setelah India, Cina, Sri Lanka dan Kenya.
Diduga penyebab rendahnya tingkat konsumsi teh di Indonesia karena masyarakat belum banyak yang tahu tentang khasiat teh bagi kesehatan. Meski minum teh sudah menjadi semacam budaya setidaknya di kalangan masyarakat Jawa, namun teh belum begitu populer untuk masyarakat di Indonesia. Boleh dibilang, budaya minum kopi masih lebih digandrungi oleh masyarakat Indonesia ketimbang minum teh
Wednesday, June 24, 2009
THE VISIONS 12 : MENGUSIK ZONA NYAMAN
Seringkali diri ini kadang lupa dan terlena dengan kebiasaan kita sehari-hari, dalam bekerja ataupun menjalani aktifitas diri. Waktu terlewati begitu cepat, dari hari ke minggu, ke bulan sampai lewati tahun. Tanpa sadar terlewatkan waktu itu tanpa dibarengi dengan perubahan diri atau ada perubahan tapi secara lambat.
Kalau melihat secara nyata perubahan di sekeliling kita, ambil contoh yang sering aku amati setiap hari kalau di Surabaya itu banyak sekali tumbuh dan berdiri tempat-tempat belanja(mall) ,apartemen dan bahkan model super blok di kota ini tumbuh begitu cepat seperti jamur di musim hujan. Kalau di bandingkan dengan diri kita disini, atau lingkungan kerja atau komunitas kita kok belum kelihatan perubahan ya. Padahal semua fasilitas itu di ciptakan untuk manusia seperti kita juga.
Mungkin ini contoh perbandingan yang kurang tepat untuk kita, banyak yang bilang"kalau kita selalu melihat di atas, pasti kita tidak akan pernah merasa cukup".
Tapi kalau kita tidak berani melihat perubahan atau membandingkan dengan yang lain, kita akan tetap berdiri dan jalan di tempat saja.
Pertanyaan ini sering kali aku buat kita koreksi diri, bagaimana hidup kita 3-5 tahun terakhir:
1. Adakah pengembang diri Anda selama ini? sampai seberapa jauh?
2. Apakah Anda merasa bahagia dan enjoy di tempat kerja ?
3. Berapa pendapatan bulanan Anda selama ini?
4. Berapa Anda punya tabungan sampai saat ini?
5. Apa yang sudah saya miliki (Rumah, mobil baru, dll)?
6. Berapa banyak teman baru yang saya kenal?
7. Sudahkah kita membahagiakan orang tua dan orang-orang yang kita cintai?
8. Sudahkah saya beramal? berapa banyak?
9. Kapan bisa Ibadah Haji?
10. Liburan yang sudah saya lakukan? seberapa sering?( karena dunia ini bukan hanya Surabaya)
etc.
Nah apakah pekerjaan atau aktifitas saya saat ini bisa memberi perubahan yang berarti, satu atau dua tahun kedepan? kalau tidak bisa, maka harus berbuat hal yang berbeda dari sekarang.
beberapa pertanyaan itu yang kadang bisa memberi motivasi diri untuk selalu berpikir dan bertindak.
Bagaimana dengan Anda?
Tuesday, January 6, 2009
THE VISIONS 11 : KALSIUM DAN KEHIDUPAN
FUNGSI 1% KALSIUM DALAM TUBUH
BERAPA BANYAK KALSIUM YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN 1% KALSIUM YANG BERSIRKULASI DALAM DARAH, SEHINGGA BISA TERHINDAR DARI BERBAGAI MACAM PENYAKIT ?
THE VISIONS 10 : MENCOBA MEMAHAMI TENTANG TAKDIR
Dalam Perbincangan dengan Seorang sahabat dalam Chat, beliau menanyakan tentang makna takdir dan kehidupan yang dijalaninya. Takdir memang sesuatu yang tak mudah untuk dipahami. Takdir merupakan salah satu dari ketentuan Tuhan Yang Maha Agung. Karena Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu, sumber dari segala ilmu dan intelegensi, pencipta alam semesta dan seisinya, maka barangkali kita terlalu menggampangkan pemahaman tentang takdir jika kita hanya menggunakan logika yang simpel takdir adalah sesuatu yang cukup kompleks untuk dipahami dengan logika manusia.
Sampai hari ini dari berbagai macam pendapat mengenai takdir, secara garis besar Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh Tuhan. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Tuhan, ada campur tangan Tuhan, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu. Dalam menuliskan tulisan ini jujur saya harus banyak bertanya, membaca buku dan merenung, suatu pertanyan yang mudah ditanyakan tetapi sangat sukar untuk dijelaskan.
Menurut saya, campur tangan Tuhan di dunia ini, "diwakili" oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Tuhan benar-benar mengambil alih dan "menyentil" kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.
Kita pada dasarnya tak kuasa mengubah Takdir, tetapi Tuhan berkuasa. Kita wajib bekerja dan berikhtiar, supaya diubah nasib kita oleh Tuhan, diubahNya isi 'Ummul Kitab' itu menurut kehendakNya, yang tidak dapat dihalangi orang lain sedikitpun. Mengapa kita wajib berikhtiar?Sebab, Dia tidak akan merubah untung nasib yang menimpa kita, sebelum kita rubah lebih dahulu:
"Sesungguhnya Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri."
Nasib bisa berubah, asal diikhtiarkan merubahnya lebih dahulu. Kehinaan ummat yang sekarang bukan didatangkan Tuhan dengan tiba-tiba, tetapi ummat itulah yang memilih kehinaan. Kemuliaan yang tercapai oleh pemeluk agama lain, setelah mereka ikhtiarkan pula lebih dahulu; mendatangkan kemuliaan kepada orang yang pemalas walaupun bagus pengajaran agamanya, atau mendatangkan kehinaan kepada orang yang berusaha walaupun pelajaran agamanya kurang bagus, alamat tidak ada keadilan.
Buya Hamka menyatakan:
… Luh Mahfuz itu adalah 'Ummul Kitab', ibu dari kitab dan nasib, yang memegang dan mengaturnya adalah Tuhan sendiri, isinya menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak kita. Tuhan bisa merubah, juga bisa menghapuskan dan bisa menetapkan, bahkan juga menambah, bukan tetap begitu saja.
Sungguhlah keliru bila seseorang mengingat takdir hanya pada saat terjadinya malapetaka, sebaliknya kita melupakan takdir pada saat meraih kesuksesan. Manusia hampir semuanya selalu menutupi kesalahannya dengan berdalih takdir. Kita terkadang menempatkan takdir secara tidak semestinya. Takdir bisa beralih fungsi menjadi sebuah kambing hitam. Alangkah enaknya jika perbuatan yang dilakukan oleh seseorang menjadikannya tak punya tanggungan dengan cara
mengatasnamakan takdir. Contoh Ketika kegagalan datang, kita menyebut itu takdir kita, Kala Kita berbuat salah itu pun takdir kita.
Memang, di zaman penuh persaingan sekarang, ketika manusia yang menghuni bumi lebih dari 6 milyar orang, mereka-mereka yang duduk diam dan cuma melafalkan doa agar rezeki datang tanpa usaha fisik, mungkin dapat saja dituding kurang akal. Hidup itu menjemput bola bukan menunggu bola. Hal ini seperti firman allah SWT yang kurang lebih artinya
"bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan esok kamu akan mati".
Dengan memahami bahwa diri kita sendirilah yang menentukan jalan hidup kita, maka kita tidak bisa hanya menyalahkan takdir jika keadaan kita saat ini tidak sesuai dengan kehendak hati. Sedapat mungkin berusahalah agar keluar dari kesulitan. Karena takdir adalah seperti sebuah sistem, nasib kita bukanlah suatu hal yang sudah terpatok mati, melainkan bisa berubah jika kita benar-benar punya kemauan untuk merubahnya. Bagi yang mungkin telah Paham, takdir itu tentunya selalu akan mendatangkan dua hal: syukur (ketika mendapat berkah) dan sabar (ketika yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan). Dalam makna yang paling luas, takdir akan sangat jauh dari sekedar sebuah keniscayaan. Jelas bukan sesuatu yang sifatnya taken for granted.
Sesuatu baru masuk dalam koridor takdir, apabila kita telah berupaya keras sedaya upaya, telah melakukan semua yang mungkin tanpa terkecuali, baru setelah itulah takdir tertetapkan. Bahwa hasil pekerjaan dapat menjadi sangat ranum dan penuh berkah. Namun, juga, dapat saja tak bernas, hanya kering dan hampa. Menurut saya Takdir hanya ada pasca usaha.
[EMAIL PROTECTED]
Depok 14 May 2008
Erwin Arianto
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY
THE VISIONS 9 : NETWORK MARKETING SEBUAH SOLUSI
Siapa pun pasti mendambakan jadi sarjana, lalu bekerja di perusahaan mapan, mendapat gaji besar dan fasilitas lainnya. Cuma persoalannya, dunia saat ini berubah. Bukan lagi jamannya “kuda gigit besi”, melainkan era global di mana dunia saat ini dalam genggaman tangan lewat kecanggihan teknologi informasi.
Kecanggihan itulah yang membuat orang saat ini diliputi pilihan sulit, menyusul menciutnya pelbagai pekerjaan. Belum lagi gonjang-ganjingnya financial dunia, membuat pekerjaan ini bukan lagi sesuatu yang mudah. Bahkan, seperti diramalkan pelbagai kalangan, dunia bekerja pun bukan lagi sesuatu yang aman. Melainkan penuh resiko, karena sesuatu yang tak terduga terjadi, seperti halnya Lehman Brother yang bangkrut. Orang tak bakal menyangka perusahaan yang berkiprah lebih dari 158 tahun itu bernasib tragis.
Kasus itulah, yang membuat pemikiran Robert T. Kiyosaki, Donald Trump, Paul Zane Pilzer dan sebagainya, menjadi sangat relevan. Mereka menganjurkan memulai sebuah usaha menjadi lebih penting, ketimbang ”menjajakan” ijazah formal.
Cuma, sekali lagi, membangun usaha – atau katakan saja entrepreneurship, bukanlah sesuatu yang mudah seperti membalikkan tangan. Pelbagai persoalan, dipastikan akan menghadang, seperti modal, produk yang diusung, karyawan, kantor, cara pemasaran dan sebagainya. Belum lagi dengan segala resiko, yang mau tidak mau, membuat sebagian orang ciut memulainya. Padahal, cara inilah yang seperti dikatakan oleh Ciputra, dapat mengerakkan roda perekonomian.
Lantas, apa solusinya? Memulai usaha dengan menumbuhkan entrepreneurship, ditambah dengan resiko yang minimalis, network marketing bisa menjadi pilihan. Maklumlah, di bisnis ini semuanya telah tersedia, termasuk produk, sistem dan cara pemasarannya. Bahkan, waktunya yang fleksibel, membuat bisnis ini banyak diminati, menyusul kian meleknya masyarakat mengenai kebebasan finansial.
Tak hanya itu, legitimasi terhadap bisnis ini pun terus bermunculan. Semua memberikan restunya, karena di bisnis ini – meminjam istilah Paul Zane Pilzer, melatih pelakunya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Pelatihan inilah, yang membuat bisnis ini berbeda, karena menekankan entrepreneurship, kemandirian, memaknai resiko dan kegagalan yang selalu melekat pada dunia usaha.
Walhasil, bersikap nyinyir, negatif dan memandang remeh bisnis ini, bukanlah sesuatu yang tepat. Fakta telah berbicara, kenyinyiran itu tidak membuat bisnis ini redup. Bahkan terus menggeliat, melahirkan dan mencetak jutawan-jutawan baru. Fenomena ini persis ramalan Paul Zane Pilzer dalam bukunya yang berjudul The Next Trillion, maupun Wellness Revolution jilid 2. Alasannya, menggelembungnnya dunia wellness yang dominan menjadi ranah Network Marketing, merupakan dua bisnis yang bakal tren di masa mendatang, sekaligus menjadi solusi penyediaan tenaga kerja yang menjadi bagian dari persoalan dunia.
Maka, investasikan waktu adalah pemikiran yang tepat, ketimbang melamun kapan lamaran direspon positif oleh perusahaan, ataupun memelihara sikap negative terhadap Network Marketing. Sebab, sesuatu yang negative itu tidak akan pernah menghasilkan apa pun...
Sunday, January 4, 2009
THE VISIONS 8 : 6 QUESTIONS TO ASK BEFORE BECOMING A NETWORK MARKETER

Gather the right facts in your business opportunity investigation by asking these crucial questions.
Entrepreneur Magazine Online — Ask the MLM Expert
-by Michael L. SheffieldCEO Sheffield Resource Network -
Question: I'm looking for a homebased business opportunity or a network marketing company to represent. What questions should I ask the company before I make a decision?
Answer: Whether you are looking for a part-time opportunity or a full-time career change, selecting the right business venture is clearly a major part of your formula for success. Thousands of potential homebased independent distributorships, franchises and network marketing opportunities are being offered in newsstand opportunity magazines, on those spam e-mails you receive regularly, or from friends and relatives who are convinced they've found the holy grail to make you both wealthy.
Unfortunately, many people jump at opportunities based on advertising hype or unsubstantiated promises and are quickly disappointed. There's nothing wrong with a company promoting its opportunity in the best light, or with your friends focusing on the potential benefits available in their own ventures. It's just that you need to separate facts from illusions, reality from fantasy and true potential from the enthusiastic sales pitch of the people who stand to profit from your involvement. They may have taken a leap of faith themselves without having done their own due diligence. There are many good opportunities for those willing to work and work hard. Any business that offers real opportunity requires real effort. Just remember, if it sounds too good to be true, it probably is.
Here are the six questions you should ask to help you make educated decisions about your time and money investment.
- How long has the company been in business? If they've been around for several years, they'll have network marketing operators who have already paved the way. Ask for references. And if they won't give you any, dig deeper to find out why. If this is a start-up venture, look for signs of financial stability. Are they properly funded to deliver on the promises they promote?
- Who are the people behind the company? Do they have proven business expertise? Have they had other successes prior to this business that assure you they understand what it takes to succeed? Do they have a successful network marketing background? If not, is a member of their executive team or a consulting organization guiding them?
- Are the products or services of personal interest to you? You usually won't do well in a business when you can't personally relate to the products. Would you buy this product yourself? Would you recommend it to friends even if you weren't paid to do so? Have you actually tried the product?
- What type of training is offered in the beginning? You can't do what you don't know, so make sure you have access to beginning and ongoing training support.
- Does the company offer great support tools? Do they provide a time-tested and proven marketing and sales system, as well as tools to help you? Video and audio training or sales presentations, printed literature, catalogs and a strong Web site linked to an online e-commerce catalog are all considered standard sales support. Linking your personal Web site to the company site is a must when marketing branded consumer products--you need this to ensure sales credit for your customers' online purchases.
- Also, what's the product warranty? Will your customers be on your doorstep if there's a problem, or will the company stand behind the product … and behind you?
- How do you earn your money? If you're buying products or services at wholesale and marking them up for your profit, the company should have a suggested formula for profitability. Is it rich enough to return your investment quickly? Is the compensation plan easy to understand? Find out whether the profit percentages are paid on retail sales, wholesale after retail commissions are deducted, or on an amount selected by the company based on product profitability. Don't judge the plan solely on the promotional copy. Ask questions and make sure you understand when you'll receive your profits. Also, ask someone you trust who has network marketing experience to evaluate how the money will flow. The company should have a detailed explanation of their plan to help the novice work though the complexities. Good compensation plans can be complex. Don't let this scare you. Just take the time to understand the reward for your investment.
You can't afford to make hasty decisions in choosing a network marketing business. Your time is your life. Waste your time, and you waste your life. Making good decisions means seeking out the facts. It's well worth the effort--it saves you time and money by eliminating the bad choices and finding winners.
One other thing: Sometimes you'll make your decision based on pure emotion and gut feeling. If the opportunity is recommended by a friend, as is the case with most network marketing programs, look upline several levels from your sponsor to determine the type of support you'll receive in building your business. You rarely succeed alone. It takes a team effort matched to a good product and support system. But in the end, the dollar bill won't sprout wings and fly into your mailbox. You have to make it happen.
Tuesday, December 30, 2008
THE VISIONS 7 : MOTIVATIONS
— Henry Ford
"The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them."
— Ralph Nichols
"You can learn from anyone even your enemy.“ (Teachablity)
— Ovid
"Silence is a source of great strength."
— Lao Tzu
"I remind myself every morning: Nothing I say this day will teach me anything. So if I'm going to learn, I must do it by listening."
— Larry King
"Great leaders are almost always great simplifiers, who can cut through argument, debate, and doubt to offer a solution everybody can understand."
— General Colin Powell
"Courage is what it takes to stand up and speak; courage is also what it takes to sit down and listen."
— Winston Churchill
"You cannot be a leader, and ask other people to follow you, unless you know how to follow, too."
— Sam Rayburn
THE VISIONS 6 : DONGENG DARI JEPANG
Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.
Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain. Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,pertanyaan- pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung. Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang. Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas – sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusahaan listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.
Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah > mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan. Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu > menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual- beli. Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa). Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut.
Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.
Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat "tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.
Sunday, December 28, 2008
THE VISIONS 5 : BUAT AGAR LINGKUNGAN ANDA MEMBUAT ANDA BERHASIL
From ”The Magic of Thinking Big”
- Sadarlah akan lingkungan. Seperti halnya diet untuk membentuk tubuh, diet pikiran membentuk pikiran.
- Buat lingkungan anda bekerja untuk anda, bukan melawan anda. Jangan biarkan kekuatan penindas – orang yang negatif, yang mengatakan anda-tidak-dapat-melakukannya – membuat anda berpikir kalah.
- Jangan biarkan orang yang berpikiran kecil menahan anda. Orang yang dengki ingin melihat anda tersandung. Jangan beri mereka kepuasan itu.
- Dapatkan nasihat anda dari orang yang berhasil. Masa depan anda penting. Jangan pernah mengambil risiko dengan meminta nasihat dari penasihat free-lance yang hidup dalam kegagalan.
- Dapatkan banyak sinar matahari psikologis. Berkunjunglah ke kelompok – kelompok baru. Temukan hal – hal yang baru dan merangsang untuk dikerjakan.
- Singkirkan racun pikiran keluar dari lingkungan anda. Hindari gosip. Berbicaralah tentang orang lain, tetapi tetap mengenai sisi positifnya.
- Gunakanlah segalanya yang kelas satu. Anda tidak mampu menggunakan yang sebaliknya.
THE VISIONS 4 : KENAPA HARUS NETWORK MARKETING ?

Banyak cara menjadi kaya. Tapi, bila tidak punya modal besar, atau ekonominya standar saja, network marketing bisa menjadi pilihan. Di bisnis ini, selain sukses bisa dibangun secara berjamaah, juga ada ”sekolah bisnis” yang bukan seperti sekolah formal yang mencetak siswanya menjadi pegawai. ”Sekolah bisnis” ini akan mengantarkan siswanya sebagai entrepreneur yang mencicipi ”uang merdeka” alias passive income.
Setiap orang tentu ingin kaya atau setidaknya aman dalam hal finansial. Masalahnya, mereka makin sulit menemukan cara bagaimana menjadi kaya. Kenyataan ini didukung Robert T. Kiyosaki. Menurutnya, kini banyak orang yang putus asa, lalu menjadikan undian lotere sebagai harapan untuk menjadi kaya.
Makanya, Kiyosaki menyarankan pentingnya mempelajari perbedaan antara kebebasan finansial dengan keamanan finansial. Untuk alasan pertama, yakni kebebasan finansial, Kiyosaki merekomendasikan bisnis Direct Selling/Network Marketing (DS/NM).
Kesuksesan Kiyosaki, baik personal maupun finansial, muncul berkat dua orang spesial dalam hidupnya. Pertama, seperti ditulis dalam bukunya, Rich Dad Poor Dad, adalah ayah angkatnya yang kaya (Rich Dad). Satunya lagi, ayahnya yang miskin (Poor Dad), yakni ayah kandung Kiyosaki sendiri. Keduanya punya kebudayaan dan kebiasaan berlainan.
Kiyosaki besar di Hawaii, anak dari keluarga imigran asal Jepang. Ketika kecil ia selalu mendengar kalimat “Bersekolah lalu menjadi pegawai negeri, karena pemerintah memperhatikan pegawai negeri”. Itulah pesan ayah kandungnya. Ia sangat berpendidikan, punya gaji besar. Tapi sebesar apa pun uang yang dihasilkan, jumlahnya menurun setiap akhir bulan dan terkadang habis. Ia sangat jujur, pekerja-keras, dicintai dan dihormati oleh Kiyosaki.
Sedang ayahnya yang kaya (Kiyosaki bertemu dengannya saat berumur 9 tahun) mendidiknya tentang uang setelah melihat kedua orangtuanya sering bertengkar soal uang. Jadi, selama beberapa tahun, rich dad mengajarkan Kiyosaki tentang kebebasan financial. Berkat latihan dari rich dad, Kiyosaki sanggup menikmati pension di umur 47. Jika mengikuti saran ayah kandungnya – menjadi pegawai yang baik sampai usia 65 tahun – tentu ia masih menjadi pegawai, di hantui dana pensiun.
Sesempurna apakah DS/NM sehingga Kiyosaki sangat merekomendasikannya? Berikut penuturannya:
Perbedaan antara keamanan finansial dengan kebebasan finansial adalah perubahan mind set (pola pikir). Satu hal yang selalu kuingat dari rich dad adalah konsep kebebasan vs. Keamanan. Ia selalu mengingatkan, ”yang penting adalah kebebasan finansial, bukan keamanan finansial, karena keduanya berlawanan. Semakin mempedulikan keamanan finansial, kebebasan finansial semakin berkurang. Dengan kata lain, semakin peduli dengan pekerjaan dan gaji, semakin kecil kebebasan.”
Aku punya teman yang berpenghasilan besar. Tapi, dia takut kehilangan pekerjaan, karena masih punya banyak hutang, sehingga memilih keamanan finansial. Kontras denganku yang memilih kebebasan, karena aku punya pola pikir, sikap dan pola kemampuan yang berbeda. Makanya aku belajar membangun bisnis, tak pernah khwatir dengan penundaan gaji atau dipecat. Dalam kamusku, kebebasan dan keamanan adalah dua kata berlawanan. Yang kusuka dari kebebasan adalah ketiadaan rasa takut. Aku tak takut dipecat karena tak akan mempengaruhi status finansialku.
Apa Yang Paling Ditakuti Warga Amerika?
USA Today meluncurkan artikel menarik yang membuat banyak orang geleng – geleng kepala. Dari survey mereka, yang paling ditakuti warga Amerika ternyata bukan teroris atau kehilangan pekerjaan , melainkan takut kehabisan uang saat tiba masa pensiun. Itu sangat beralasan. Sebab, buktinya terjadi perubahan pasar saham perusahaan-perusahaan Amerika yang tak menentu. Inilah ketidakstabilan finansial yang sangat ditakuti warga Amerika.
Cashflow Quadrant: Apa Yang Menjadi Nilai Utama?
Seberapa sering anda berkata pada diri sendiri, ”Seandainya saya tak perlu bekerja” atau ” Saya bekerja keras, tapi yang menjadi kaya adalah pemilik perusahaan.”
Demikian kalimat – kalimat yang disebut rich dad sebagai Cashflow Quadrant. Itu juga yang menjadi buku keduaku, “Rich Dad’s Cashflow Quadrant.” Buku itu ditujukan kepada mereka yang siap mengubah hidup – perubahan yang lebih penting dibanding mencari pekerjaan.
Apakah Cashflow Quadrant? Rich Dad berkata bahwa ada empat tipe di dunia bisnis :
S = Self-Employee (Pegawai/Karyawan Independen)
B = Business Owner (Pengusaha)
I = Investor
Itu mudah dengan melihat dari mana datangnya penghasilan. Contoh, jika anda menerima penghasilan dari bekerja di perusahaan yang bukan milik anda, maka cashflow anda ada di quadrant “E”. Lain denganku, penghasilan dating dari bisnis dan investasi, maka aku berada di quadrant “I”.
Beberapa tahun lalu rich dad menjelaskan konsep itu. Kata beliau, setiap quadrant punya nilai berbeda. Beliau juga menjelaskan perbedaan 4 quadrant ini lewat kata-kata yang mereka gunakan. Berikut penjelasan singkat masing-masing quadrant dan kata-kata yang menerangkannya:
Quadrant ”E” : ”Saya mencari pekerjaan aman yang menguntungkan”. Meskipun seorang quadrant ”E” adalah pelayan atau presiden perusahaan, mereka punya kesamaan dalam pola pikir, yaitu peduli dengan keamanan. Makanya mereka mencari pekerjaan, yang syukur-syukur berjangka panjang dan menguntungkan.
Quadrant ”S” : ”Jika anda ingin sempurna, lakukan sendiri”. Mereka ini punya pola pikir tidak tergantung pada siapa pun. Mereka ingin bebas melakukan sesuatu sesukanya. Aku menyebut mereka sebagai bisnis cara John Wayne. Anda bisa mendengar mereka berkata, ”Aku akan melakukannya sendiri”. Penghasilan mereka tergantung jumlah waktu yang mereka luangkan. Umumnya, mereka cukup berpendidikan semisal konsultan atau dokter.
Quadrant ”B” : ”Saya mencari yang terbaik untuk bergabung bersamaku”. Mereka punya misi hidup yang kuat. Jika yang ada di quadrant ”S” ingin yang terbaik di bidangnya, maka yang di quadrant ”B” mencari yang terbaik untuk bergabung bersamanya. Lebih dari apa pun, mereka menjunjung tinggi efisiensi tim demi saling membantu untuk memperkuat bisnis. Mereka yang di quadrant ”B” tetap berpenghasilan, walaupun tidak terlibat langsung dengan bisnisnya.
Quadrant ”I” : ”Apa yang menguntungkan dari investasi saya?” Apa yang mereka inginkan adalah kebebasan finansial. Para investor memilih pola pikir ”uang yang bekerja” daripada harus bekerja. Mereka berinvestasi di berbagai bidang semisal estate, bisnis, saham atau obligasi.
Quadrant Mana Yang Lebih Menjanjikan Kesuksesan?
Sekarang giliran anda melihat masing-masing quadrant. Mungkin anda bertanya, ”quadrant mana yang terbaik untuk saya?” Satu alasan penyebab kegagalan adalah takut mengubah quadrant, sehingga sebagian besar orang hanya berani mengubah pekerjaan.
Kenyataannya, menurutku, banyak jalan untuk menjadi kaya. Tapi anda mesti sangat beruntung, dan bekerja keras selama jangka waktu yang panjang. Contoh, jika anda seorang pegawai di perusahaan yang masuk Fortune 500, maka suatu hari mungkin anda bisa menjadi CEO dan memperoleh gaji besar. Jika anda punya tubuh atletis, anda bisa menjadi bintang sepak bola dengan gaji luar biasa. Memulai bisnis tradisional saat ini perlu modal yang tidak sedikit. Nah di Amerika, mayoritas tidak punya cukup uang untuk modal usaha. Mereka juga kekurangan tekhnik operasional, tekhnik menjual dan leadership yang merupakan suatu syarat. Persoalannya, bagaimana mereka yang ekonominya standar, tapi ingin menjadi kaya? Padahal, membuka usaha perlu modal dan risiko yang relatif besar?
Ada jalan bagi mereka yang ekonominya standar, tapi ingin menikmati keuntungan finansial tanpa perlu modal besar, yakni dengan menggeluti bisnis DS/NM. Walau tidak menjalani, tapi aku punya segudang alasan mengapa DS/NM merupakan bisnis sempurna bagi yang ingin menggelutinya.
Bisnis ini terkait dengan saran rich dad, seperti yang kutulis di buku. Aku merekomendasikan bisnis ini, karena sesuai dengan apa yang di ajarkan rich dad, bukan poor dad. Selama beberapa tahun aku memperhatikan bisnis ini. Lantas, sikapku berubah, setelah suatu hari melihat seorang sahabat menggelutinya. Aku bertanya kepada dia alasan menjalani bisnis DS/NM? Ia mengaku ingin menolong orang lain, dan ingin mendidik mereka. Jawabannya cukup mengejutkan, sehingga aku terus menghujani dengan berbagai pertanyaan lain.
Tak sampai di situ, aku pun lalu menghadiri pertemuan-pertemuan yang mereka adakan. Ternyata, mereka punya prinsip dan pendidikan yang sama, pola pikir yang sama, skill bisnis yang sama dan sikap yang sama seperti yang diajarkan rich dad. Bagiku, DS/NM merupakan bisnis revolusioner untuk menjadi kaya, dan satu-satunya bisnis yang persis diajarkan rich dad padaku. Berikut sekelumit alasan mengapa DS/NM begitu menguntungkan:
- Bisnis DS/NM tidak mempedulikan kampus mana yang pernah anda masuki, berapa uang yang anda hasilkan hari ini, atau bagaimana penampilan anda. DS/NM benar benar bisnis untuk semua orang yang ingin menggapai kebebasan finansial.
- DS/NM mendidik nilai yang tak diajarkan di sekolah bisnis tradisional – nilai seperti cara mendidik diri sendiri dan orang lain bagaimana menjadi pengusaha, hingga terbuka peluang meraih kebebasan finansial. Dari segalanya, yang terpenting adalah anda bebas menentukan masa depan anda sendiri.
- Sebuah alasan utama mengapa aku mendukung DS/NM, karena perusahaan benar-benar menjadi sekolah bisnis, bukan seperti sekolah umum yang mendidik siswa-siswanya agar menjadi pegawai suatu hari nanti. DS/NM mengajarkan bukan hanya teori, tapi latihan yang bisa langsung dipraktekkan.
- Kunci sukses dibisnis ini adalah belajar menjual sesuatu, bukan sekali, tapi beberapa kali. Perusahaan DS/NM mendidik skill dasar bagaimana menduplikasi dengan melatih pola pikir.
- Jika anda menemui rintangan, sulit untuk memulai dan belum memcapai level yang diinginkan, tak perlu khwatir karena anda tak akan dipecat. Perusahaan DS/NM mengerti bahwa kesuksesan mereka tergantung kesuksesan anda. Mayoritas perusahaan DS/NM sangat peduli keinginan anda untuk belajar, untuk berubah dan untuk berkembang. Mereka akan mendorong anda semaksimal mungkin agar menjadi pengusaha.
- Inilah yang terbaik, keindahan DS/NM adalah passive income, yang kusebut dengan ”uang merdeka”. Anda bisa mendapatkannya suatu hari hingga anda bisa bersantai 100 persen dari bekerja keras. Passive Income adalah penghasilan tanpa harus bekerja. Dan seperti pengusaha di quadrant ”B” yang mengasilkan uang tanpa bekerja, demikian pula yang terjadi pada DS/NM. Jadi, dengan memiliki bisnis DS/NM, anda berarti telah berada di quadrant ”B” layaknya Bill Gates dari Microsoft, membawahi orang-orang yang melakukan pekerjaan untuk anda, entah harus bekerja atau tidak.
Seperti yang telah kuterangkan sebelumnya, sekarang begitu banyak cara untuk menjadi kaya. Seperti dikatakan rich dad, cara terbaik menjadi kaya adalah mencari jalan yang tepat. Jika anda seorang yang suka membantu orang lain, aku yakin DS/NM pilihan yang tepat. Tapi itu tergantung apakah anda ingin kebebasan atau keamanan? Apakah anda suka pekerjaan yang aman dan menguntungkan? Atau anda ingin mendapat kebebasan dari bisnis sendiri? Apapun pilihannya, pahami bahwa semua butuh kerja keras dan komitmen. Yang telah kujelaskan ini hanya sebagian yang penting untuk anda, rekomendasi bisnis DS/NM. Rich Dad mengajarkan pola pikir lebih penting dari uang, dan metode yang dipilih akan sama dengan pola pikir anda. Apakah DS/NM bisnis sempurna? Semua tergantung anda!.
THE VISIONS 3 : RAHASIA RUMUS 90 : 10
Suatu hari Anda sarapan bersama di rumah. Anak perempuan anda tiba-tiba tanpa sengaja menumpahkan kopi sehingga baju seragam Kerja anda kotor. Anda lepas kendali, memaki-maki anak Anda sehingga dia menangis. Kemarahan anda merembet kepada pembantu karena menaruh cangkir kopi terlalu dekat ke anak Anda.
Terjadi debat kusir dengan pasangan anda. Dengan rasa jengkel, anda tinggalkan meja untuk ganti seragam. Selesai ganti pakaian, anda melihat anak anda masih menangis dan bersiap untuk pergi sekolah tanpa menyelesaikan sarapannya. Tapi dia ( anak ) sudah ditinggalkan mobil jemputan. Anda bergegas ke mobil dan berteriak kepada anak anda untuk segera naik mobil. Anda terpaksa mengantarnya ke sekolah.Kemudian ngebut karena terlambat.Sialnya waktu memotong jalan, anda dihentikan polisi dan terpaksa damai dengan memberikan imbalan Rp. 50.000,-. Sampai di sekolah, anak anda langsung lari dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata-kata. Setelah berjuang keras, akhirnya anda tiba dikantor terlambat 20 menit. Pada saat itu, anda baru sadar bahwa anda lupa membawa tas kerja anda. Anda memulai hari itu dengan kejadian yang menjengkelkan. Ketika waktu berlanjut, semua keadaan seolah-olah berubah menjadi semakin kacau.
Sore hari, anda pulang kerumah dengan lesu. Disambut suasana "dingin" dari pasangan, anak dan pembantu anda.
Mengapa anda mengalami hari-hari yang menyebalkan?
Apakah karena kopi tumpah di baju seragam anda?
Apakah karena anak anda yang menyebabkannya?
Ataukah karena Pak Polisi yang menilang anda?
Atau akibat perilaku anda sendiri?
Jawabannya adalah : Sesungguhnya anda bisa mengendalikan reaksi anda pada kejadian tersebut. Hanya reaksi spontan anda, yang mengakibatkan semua itu terjadi. Anda bisa merubah situasi menyebalkan itu menjadi lebih menyenangkan dengan menerapkan rumus 90: 10. Artinya, 10% dari kehidupan kita berupa "takdir" yang harus diterima, dan 90% lainnya, disebabkan oleh reaksi anda terhadap berbagai tekanan dan kejadian yang menimpa Anda. Kita tidak bisa mengendalikan 10% faktor takdir. Anak tidak sengaja menumpahkan kopi, mobil mogok. Jadual penerbangan terlambat sehingga seluruh rencana kerja menjadi kacau, dan terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Ini realita yang tidak bisa dikontrol.
Berbeda dengan aspek 90% sisanya. Anda bisa mengendalikan dan mengatur reaksi atau respon yang akan anda lakukan terhadap kejadian yang menimpa anda.
Jangan biarkan berbagai kejadian itu mengatur anda. Anda pasti bisa mengendalikan bagaimana reaksi atau respon terbaik yang harus anda lakukan.
Berikut, contoh yang seharusnya anda lakukan :
Kopi menumpahi seragam anda. Anak anda kaget bahkan terlihat akan menangis. Anda bisa berkata, "Nak, tidak apa-apa cuma basah. Lain kali, berhati-hati kalau sarapan." Anda segera ke kamar dan mengganti baju seragam. Waktu anda kembali anda lihat anak anda sudah selesai sarapan dan segera lari ke depan, menuju mobil jemputan sambil melambaikan tangan kepada anda. Anda, anda masih bisa baca koran dan bercengkerama sebentar sebelum anda siap pergi ke kantor. Anda tiba di kantor 5 menit sebelum jam kerja, dengan gembira. Anda menyapa semua rekan dan anak buah anda di sepanjang jalan menuju kamar kerja. Anda mendapat pujian bos dan bawahan yang mengamati gerak gerik anda. Hari ini sungguh menyenangkan.
Amati apa perbedaan yang terjadi diantara dua skenario di atas.
Semua dimulai dengan kejadian yang sama, kopi tumpah (aspek 10%) yang tidak bisa anda cegah. Namun hasilnya jauh berbeda, karena cara anda (aspek 90% ) kejadian tersebut berbeda. Jangan bereaksi negatif terhadap suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Berikan reaksi yang positif, dan yakinkan bahwa hal itu tidak akan merusak hari-hari anda selanjutnya.
Namun, apabila anda memberikan reaksi atau respon yang salah, maka pasti akan berdampak buruk bagi anda selanjutnya.
Apa reaksi anda bila terjebak kemacetan lalu-lintas?
Apakah membunyikan klakson mobil sekeras-kerasnya.
Apakah dengan berlaku seperti itu kejadian akan membaik?
Apakah detak jantung anda menjadi normal atau sebaliknya?
Apakah orang lain peduli bila akhirnya anda terlambat tiba di kantor 10-20 menit?
Mengapa anda membiarkan kejadian tersebut merusak seluruh hari anda?
Ingat rumus 90 :10
Rahasia manfaat penerapan rumus 90 : 10 dalam kehidupan sehari-hari itu sungguh luar biasa. Namun, sedikit diantara kita yang memahaminya, sehingga jutaan orang menderita stress dan berbagai macam masalah pribadi.
FOKUS PADA 90% SOLUSI
DAN HANYA 10% PADA MASALAHNYA
Friday, December 26, 2008
THE VISIONS 2 : 10 CIRI ORANG YANG BERFIKIR POSITIF
Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang ‘beredar’ di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
- Melihat masalah sebagai tantanganBandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
- Menikmati hidupnyaPemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
- Memilki sifat Teachable (mau belajar) & Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ideKarena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.
- Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak‘Memelihara’ pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
- Mensyukuri apa yang dimilikinyaDan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.
- Tidak mendengarkan gosip yang tak menentuSudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
- Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakanPernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.
- Menggunakan bahasa positifMaksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."
- Menggunakan bahasa tubuh yang positifDi antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’.
- Peduli pada citra diriItu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.